Undangan Edelweis

 

Undangan Edelweis

Oleh Eri Vianti (EV)

“Bertemu denganmu adalah anugerah terindah dalam hidup. Jadilah inspirasi selamanya.”

 

Saat buka bersama teman-temannya, seorang gadis berjilbab biru membuka HP nya untuk melihat status seseorang yang mencuri perhatiannya sejak lama.  

“Keren tu Pak filmnya, udah nonton saya filmnya.” J

“Oh ya? Waduh ketinggalan saya.”

“Sehat Pak?”

“Alhamdulillah sehat, Bu.”

“Bu, yang punya buku itu beliau penulis buku juga. Jadi teringat saya sama Bu Kasi sama-sama penulis. Kata beliau mau jumpa Bu Kasi, bisa Bu?”

“Beliau menginap di hotel kami, kalau boleh saya pertemukan ibu dengan beliau, nanti saya dampingi.”

“Kapan Pak?”

“Masyaallah boleh, Pak.”

“Saya ada film itu Pak”.

“Kirim ke saya, Bu.” (^_^)

“Beliau nginap sampai Hari Kamis pagi. Saya masih masuk sampai tanggal 18. Dimana bagusnya jumpa ya, Bu?”

“Jumpanya di hotel Bapak saja. Tapi kejauhan ya Pak. Saya takut pulangnya soalnya ga tahu jalan.” (emot ketawa)

“Kalau masalah pulang, nanti saya temenin Bu.”

Wah bahagianya ditemenin pulang sama seseorang yang selalu ia kagumi. Rasanya seperti terbaring di taman bunga warna warni yang berhamburan.

Diundang oleh seorang pria penyuka Bunga Edelweis, sifatnya seperti bunga itu. Namun, entah siapa yang nantinya bisa memetik bunga itu. Semoga gadis berjilbab biru tadi tidak lelah berjuang agar sampai di puncak dimana Bunga Edelweis itu tumbuh. Kasian jika bunga itu terus sendirian. Ia ingin menemaninya.

“Tunggu aku, Edelweis.”

__________________________________________________________

“Kok bisa rekomin saya ke Bapak itu, Pak?”

“Saya teringat ibu seorang penulis, jadi saya ceritain aja tentang ibu. Ternyata bapak itu mau ketemu ibu.”

Senyum simpul di balik helaian jilbab merekah manis sekali. Lantunan setiap do’a yang ia panjatkan kepadaNya diijabah dan lebih indah skenarionya. Sungguh indah rencana sang pencipta bagi hambanya yang selalu melantunkan do’a-do’a.

__________________________________________________________

Di malam itu, gadis berjilbab bunga-bunga itu tidak bisa melupakan kenangan indah bersama seseorang yang selalu ia impikan sejak lama. Sang pencipta begitu baik sehingga ia bisa bertemu ciptaannya yang sangat indah dan menenangkan. Semoga Allah SWT selalu melindungimu, wahai Pangeran Edelweis.

Si gadis penyuka warna biru itu ingin sekali melihat dari dekat kepribadian Pangeran Edelweisnya. Ia lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa selain lantunan kalimat-yang ia selalu sampaikan kepada sang pencipta. Semenjak bertemu dengannya, si gadis ini terus mendekatkan diri kepada sang pencipta. Ada hikmah yang indah di balik semua yang ia alami. Kenapa ia harus bertemu seorang pria sepertinya?

Sebuah getaran hati pernah ia rasakan saat pertama kali berjumpa dengan pria itu. Apakah pria itu juga bergetar hatinya? Hanya pemilik merekalah yang maha tahu.

Konsisten berdo’a di sepanjang Bulan Ramadan membuat gadis penyuka biru itu yakin dan percaya bahwa keajaibab do’a-do’a akan mengantarkannya pada takdir-takdir yang indah. Memang benar, semuanya begitu indah tiada terkira. Jika ada kalimat lain yang lebih mulia diucapkan saat bersyukur dan bahagia, ia ingin mengucapkannya berkali-kali karena bertemu dengan pria yang menggetarkan hatinya adalah sebuah anugerah terindah dalam hidupnya.

Pernahkah kita merasa dikagumi oleh seseorang dikarenakan kita begitu taat ibadah, santun kepada orang tua dan baik kepada semua orang? Pria ini termasuk di dalamnya. Ia selalu sholat berjama’ah di masjid dan sangat mencintai ibunya. Betapa gadis itu bersyukur dipertemukan dengan pria tersebut dalam hidupnya. Andai memang mereka disatukan dalam ikatan suci, itu adalah sebuah takdir sang pencipta yang begitu indah. Berkat mereka yang saling menjaga kesucian perasaan dan diri, dipersatukanlah mereka dalam ikatan yang suci dengan cara yang indah dan diridhoinya. Inilah Ali dan Fatimah di zaman ini yang tidak tergores oleh zaman tapi tetap teguh dalam pedoman.

Kenapa setiap malam, si gadis selalu teringat wajah dan senyum pria itu? Si pria pernah bercerita kepadanya bahwa ia memimpikan si gadis. Mereka berjalan-jalan ke Jepang berdua. Pas mau makan bersama, tiba-tiba si pria terbangun dari mimpinya? Ada apa gerangan? Semoga banyak hal baik yang akan terjadi pada mereka di hari-hari kemudian. Ketulusan cinta si gadis terbukti dari setiap lantunan do’a-do’a yang ia panjatkan untuk pria itu setiap sholat dan waktu-waktu mustajab. Jarang bertemu langsung di dunia nyata tapi selalu bertemu dalam mimpi dan lantunan do’a-do’a. Si gadis selalu meminta pada sang pencipta agar disatukan dengannya dalam ikatan suci yang diridhoiNya. Mereka takut jika pencipta mereka murka dengan apa yang diperbuatnya jika mereka bersama. Begitulah prinsip orang-orang yang saling menjaga karena takut kepada penciptanya.

Si gadis dan si pria yang bekerja di institusi pendidikan membuat mereka saling memanggi Pak dan Bu. Panggilan formal yang harus dilakukan untuk mengikuti alur etika yang sudah diterapkan. Kebiasaan itu pun dilakukan saat di luar jam kerja. Jika memanggil dengan panggilan lain, rasanya saling tidak enak hati karena mereka berkepribadian saling menghormati.

Setiap berinteraksi dengan si pria, si gadis merasa tenang dan tentram. Si pria juga terinspirasi dengan si gadis. Mereka saling mengagumi satu sama lain tapi saling menyembunyikan tanpa menceritakan semua. Si pria suka bercerita banyak hal yang berbobot. Kalau bercerita rasanya isi ceritanya daging semua. Si gadis sangat suka mendengarkan dan mengamati dengan seksama apa yang diceritakan oleh si pria. Ibarat kata, mereka seperti hujan dan payung. Walaupun hujan itu membuat basah, tapi payung tidak pernah lelah menemani hujan karena ia setia melihat hujan turun. Payung selalu bahagia karena ia melindungi orang-orang dari hujan. Sampai si payung kadang tidak ingat lagi kalau ia sudah berbalik arah ke atas menampung hujan. Begitulah pengorbanan payung kepada hujan.

Si gadis tahu cara makan si pria manis itu. Prinsipnya sama sekali dengan si gadis, tidak mau mubazir makan makanan. Level kekaguman si gadis makin naik level karena sangat terharu dengan kesamaan itu. Indah rasanya melihat langsung dari depan orang yang sangat dikagumi makan dengan lahap. Ia yang mempersiapkan makanan di meja dengan minumannya. Si gadis yang membuang sampah sisa bungkusan makanan yang disiapkan oleh si pria manis itu. Si gadis sangat memperhatikannya dengan seksama. Ia ingin mengabadikan si pria manis itu dalam sebuah tulisan.

Sungguh sangat indah ciptaanNya hingga seisi dunia rasanya semanis permen di dalam toples kaca. Si gadis selalu tersenyum setiap hari, bahkan saat tertidur lelap membayangkan si pria manis itu.

Ia punya kekuatan dari do’a-do’anya yang selalu ia panjatkan. Kebahagiaan mengingat sang pria telah merasuk ke jiwanya membuat ia setiap hari ingin menceritakan kepada orang-orang tentang pria itu. Ia juga ingin menuliskan tentang pria itu dalam setiap tulisan agar abadi selamanya. Sungguh indah ciptaanNya hingga membuat si gadis takjub hingga sekarang. Semoga sang pencipta selalu melindungi si pria manis itu.

­­­__________________________________________________________

“Saya mau baca buku Pak BJ Habibie dan Khairul Tanjung, tapi belum sempat beli.”

“Bapak suka baca buku juga? Saya juga suka baca buku dan nulis juga. Alhamdulillah saya sudah nulis beberapa buku antologi, tapi buku solo belum ada. Semoga nanti bisa punya buku solo.”

“Apa itu buku solo, Bu?”

“Buku yang ditulis sendiri dan ada nama penulisnya diri kita sendiri, Pak.”

__________________________________________________________

“Bapak suka warna biru ya?”

“Iya bu, sama warna hitam.”

“Saya juga suka warna biru, Pak. Berarti kita suka warna yang sama ya Pak?”

Sebuah senyum merekah di bawah kaca mata hitam tak pernah berubah semenjak ia tahu bahwa si pria suka warna biru.

Sungguh indah kehadirannya dalam hidup si gadis penyuka biru. Baru kali ini ia menemukan pria yang selama ini ia impikan. Alhamdulillah, sungguh indah skenario Allah SWT mempertemukannya dengan pangeran Edelweis. Ya, dia menyebutnya itu karena butuh perjuangan yang tulus agar bisa mengetuk hatinya, tidak sembarangan. Tiada perjuangan yang berbuah manis jika tidak ditemani oleh ketulusan yang ikhlas.

Semoga si pria terketuk hatinya untuk mengenal lebih jauh si gadis itu sebelum si penyuka biru itu pergi selamanya. Semoga si gadis penyuka biru itu masih tetap menjadi pejuang pengetuk hati si pria manis itu hingga akhirnya mereka ditakdirkan dalam ikatan yang suci nan indah sesuai skenario sang pencipta dan sesuai lantunan-lantunan do’a-do’a yang si gadis panjatkan setiap waktu.

Quotes: 

“Cinta selalu sabar dan baik. Cinta tak pernah cemburu. Cinta tak pernah sombong dan angkuh. Cinta tak pernah kasar dan egois dan tak pernah tersinggung dan benci. Cinta selalu siap memaafkan, percaya, berharap dan menahan apapun yang terjadi.”

 

“Cinta ~ menemukan seseorang yang menjadikan kita lebih baik. Melakukan hal-hal yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya.”

(Eri Vianti)

This story is special for a handsome man who was born today. (^_^)

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I see You

Sebuah Janji dan Penghargaan

Karakter Generasi Muda sebagai Pilar Pendidikan Bangsa Indonesia