I see You
I
see You
oleh
Eri Vianti
Tak pernah terlintas di
pikiran bahwa tahun 2020 menjadi tahun yang penuh kekhawatiran dimana harapan
dan target yang telah dinanti, kini semuanya harus ditunda dulu. Seperti target
Yuna, seorang mahasiswi jurusan Teknik Informatika Binsus (Universitas Bina
Nusantara) yang akan berangkat mengikuti kompetisi internasional di Swiss.
Sebagai seorang mahasiswi yang berkelana di dunia teknik, ia bersama dua orang
temannya mencoba berpartisipasi pada sebuah kompetisi tingkat internasional
yang nantinya jika menang, karyanya akan diberikan hak paten dan didanai untuk
dikembangkan. Nama kompetisinya yaitu International
Exhibition for Young Inventors (IEYI).
Kompetisi ini diadakan
setiap tiga tahun sekali di kawasan Asia. Namun, sejak tahun 2010 kawasan Eropa
juga ikut berpartisipasi pada perlombaan ini karena mengingat semakin
canggihnya pengaruh digital di seluruh dunia. Bersama kompetisi ini, pihak
penyelenggara mengajak para penemu-penemu muda di seluruh universitas yang ada
di benua Asia dan Eropa untuk saling meningkatkan perkembangan dan kecanggihan
teknologi dalam membantu banyak orang yang menemukan masalah-masalah dalam
kehidupan sehari-hari. Tema di tahun ini fokus pada kesehatan atau yang disebut
dengan Health Care Innovations. Di
saat keadaan mengalahkan para jiwa-jiwa pejuang, Yuna dan teman-temannya
semakin berdamai dengan diri bahwa keadaan tidak boleh menghalangi mimpi.
Sempat Yuna merasa khawatir kompetisi tersebut ditunda kelanjutan seleksinya
dikarenakan pandemi Covid-19 yang sedang melanda di seluruh dunia. Namun dua
orang rekannya, Ronald dan Henry menyemangatinya saat dosen pembimbing mereka
mendukung penuh karya yang sedang diperjuangkan oleh mereka.
Kompetisi ini awalnya
ditemukan oleh Henry saat sedang berselancar di akun instagramnya. Ia merasa di
saat di rumah saja, harapan-harapan tentang target mulai buram di hadapan mata.
Seketika ia ingat Ronald dan Yuna, dua rekan seperjuangannya di kampus yang
memiliki passion yang sama yaitu
sering mengikuti lomba di bidang inovasi. Beberapa kompetisi tingkat
internasional sudah beberapa kali diikuti oleh mereka, bersama seorang dosen
yang selalu mendukung perjalanan mereka yaitu, Profesor Alvian Martin. Henry
termasuk yang dekat dengan Profesor Martin, panggilan beliau saat di kampus. Sebelum
kisah perlombaan mereka berlanjut, kisah ini bermula pada bulan Januari 2020
lalu ketika Henry menghubungi Profesor Martin bahwa ada sebuah kompetisi
internasional yang barangkali saja nantinya ada peluang membawa nama baik
kampus di kancah internasional jika mereka berpartisipasi.
Henry ingin mengikuti
kompetisi tersebut sembari sedang mengerjakan tugas akhirnya sebagai mahasiswa.
Saat kebingungan mencari partner untuk
berpartisipasi pada ajang kompetisi itu, saat itulah Ronald yang sedang
kesulitan dengan tugas akhirnya menghubungi Henry untuk meminta bantuan.
Seketika itu pula Henry mengajak Ronald untuk ikut berpartisipasi pada
kompetisi yang ditargetkannya. Dibutuhkan satu orang lagi yang bisa menjadi partner hebat mereka. Ronald menyarankan
seorang mahasiswi yang berprestasi, yaitu Yuna. Ia seorang mahasiswi ynag
berhasil terpilih menjadi mahasiswa berprestasi utama di Universitas Bina
Nusantara, yang juga satu rekan Ronald saat mengikuti ajang pemilihan mahasiswa
berprestasi di kampus. Atas saran yang diberikan Ronald, Henry setuju jika Yuna
ikut menjadi salah satu timnya.
Pada bulan Januari
2020, terdengar kabar bahwa di wilayah Wuhan, China sedang marak berita tentang
virus Corona. Wabah penyakit tersebut
menjadi ketakutan tersendiri tidak hanya bagi warga Wuhan saja tetapi banyak orang
di luar wilayah Wuhan termasuk di Negara Indonesia. Awalnya, Henry berpikir
bahwa wabah tersebut tidak sampai ke Indonesia. Nyatanya singgah juga di bulan
Maret dengan berbagai varian cluster terbaru.
Dua bulan saja berita yang baru saja didengar menjadi kenyataan di negeri
sendiri.
Kompetisi IEYI dimulai
dengan mendaftar di sebuah link website lalu
dilengkapi dengan mengirimkan sebuah
karya ilmiah. Karya tersebut di upload pada
website penyelenggara. Dari hampir lima ratusan peserta yang mengikuti seleksi
pertama, kelompok Henry dengan aplikasi yang bernama I see lolos seleksi pada tahap pertama. Betapa senangnya Henry saat
membuka pengumuman tahapan pertama seleksi kompetisi tersebut. Ditunjuk sebagai
ketua tim, Henry selalu aktif memantau perkembangan informasi. Jika nanti ada
informasi baru terkait lomba yang mirip dengan yang sedang diikuti saat ini,
maka ia akan mengajak Ronald dan Yuna berkompetisi lagi.
Semenjak pandemi, Henry
lebih banyak di rumah kostnya. Ia memutuskan tidak pulang ke kampung halaman
walau perkuliahan secara daring bisa diakses dari kampung halamannnya. Ronald
juga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kostnya. Ronald sering diberitahu
Henry akan hal-hal baru yang tidak pernah sebelumnya ia pikirkan. Yuna juga
lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga sembari aktif belajar
daring dan aktif menulis. Setelah dinyatakan lolos seleksi kompetisi inovator
IEYI, Yuna berinisiatif mengajak Henry dan Ronald mencoba aplikasi buatan yang
dinamai I see di labor teknik tempat
mereka sering praktek di kampus. Pada seleksi tahap kedua nanti, mereka harus
membuat video presentasi yang di upload di
link YouTube panitia penyelenggara IEYI. Likes
dan Comments dari penonton sangat diharapkan pada seleksi ini juga menjadi
penilaian pada tahap tersebut. Sebelum membuat video tersebut, Yuna membuat konsep
video yang menarik, Henry menguji kelebihan dan kekurangn aplikasi I see dan Ronald yang akan mengedit
video presentasinya.
Pada kompetisi
internasional ini, tim Henry memilih tema kesehatan dengan menciptakan sebuah
aplikasi yang membantu penglihatan mata rabun dan buta bagi tunanetra, Mereka
menamai aplikasi ini dengan nama I see. Dengan
aplikasi ini, setiap orang yang mengalami gangguna penglihatan baik rabun dan
buta bisa dibantu dengan penggunaan aplikasi ini. Nama aplikasi ini dicetuskan
oleh Yuna yang melihat keadaan kakaknya yang mengalami rabun jauh yang sudah
parah dan juga kakeknya yang sudah menderita gangguan penglihatan karena faktor
usia. Untuk pemrograman dan konsep yang untuk aplikasi ini dibuat dan diprogram
oleh Henry. I see memiliki banyak
kelebihan antara lain, dapat menunjukkan arah dengan memberikan pemberitahuan
posisi berbasis lokasi, memberikan keterangan bentuk dan warna pada benda-benda
yang jaraknya hingga dua meter dari pengguna, mendeteksi hal-hal yang tidak
asli jika sesuatu sudah dipalsukan, memberitahukan ciri-ciri orang yang datang
pada pengguna dan mendeteksi bahaya baik dari benda mati dan benda hidup yang
akan menghampiri pengguna serta memberikan solusi apa yang harus dilakukan oleh
pengguna aplikasi tersebut saat merasa panik dan bahaya menghampirinya.
Cara kerja aplikasi ini menggunakan kombinasi
kamera, audio, pesan teks dan lampu sinyal. Ketika membuka aplikasi ini, kamera
belakang diarahkan untuk menangkap gambar dan suara yang akan dideteksi. Lalu,
saat gambar yang tertangkap kamera dalam bentuk foto, aplikasi I see mendeskripsikan bentuk objek
berdasarkan gambar yang tertangkap kamera. Pengguna dapat menanyakan apa yang
akan dilakukan objek tersebut kepada pengguna. Jadi jawaban dari I see dapat dijadikan saran.
Untuk penyandang tunanetra, aplikasi ini
sangat membantu penderita melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan orang lain.
Untuk penderita rabun, baik rabun jauh, senja dan dekat, dengan seringkali
menggunakan kaca mata dapat membuat keadaan mata menjadi lelah sehingga
menggunakan aplikasi ini membantu untuk mengetahui keadaan sekitar saat tidak
ingin menggunakan kaca mata. Saat berada di labor teknik, Henry, Yuna, Ronald
dan Profesor Martin meneliti kelebihan dan kekurangan aplikasi ini agar saat
presentasi di bulan Desember nanti, mereka dapat menjawab semua pertanyaan
dewan juri dengan baik.
Tugas yang harus
diselesaikan sebelum bulan Desember yaitu setiap kelompok yang masuk 20 besar
tingkat dunia harus menguji coba aplikasi tersebut selama enam bulan terhitung
dari bulan Juni. Tahap seleksi ini adalah tahapan yang terakhir dari kompetisi
tersebut. Henry dan rekan-rekannya bersiap-siap untuk bisa lolos pada tahap 20
besar tersebut dengan pengujian di labor sebelum aplikasi diluncurkan. Untuk
menuju tahap terakhir kompetisi tersebut, setiap peserta harus meluncurkan
aplikasi yang dibuat. Sebelum peluncuran aplikasi tersebut, tim I see melakukan pengujian terlebih
dahulu selama sebulan di labor teknik kampus. Dalam pengujian kali ini, Henry
yang berperan sebagai ketua tim mempersilahkan Ronald untuk mencari kelebihan
dan kekurangan program aplikasi, Yuna ditunjuk Henry untuk mempersiapkan konsep
presentasi dan mencari dukungan dari berbagai relasi untuk membantu
memperkenalkan aplikasi yang akan diluncurkan sebulan lagi. Ia aktif mendesain
beberapa promosi di berbagai media sosial yang ia punya sekaligus meminta
bantuan dari relasi-relasi kampus tempat Yuna berperan dalam organisasi yang
pernah ia lakukan.
Selama pengujian
aplikasi, Profesor Martin selalu menemani selama mereka berada di labor. Beliau
juga memberikan komentar terkait proses peningkatan aplikais tersebut.
Kekurangan yang ditemukan akan dicatat oleh Henry. Pada presentasi tahap 20
besar nanti, setiap peserta akan diundang ke Swiss untuk mempresentasikan
inovasinya di depan para juri yang bergerak di bidang inovasi dari seluruh
dunia sekaligus acara tersebut akan disiarkan langsung di televisi
internasional dan live di akun
YouTube. Oleh karena itu, persiapan sebelum peluncuran aplikasi sangatlah penting,
begitu juga setelahnya harus dipantau terus menerus.
Tepat dua minggu
setelah pengujian dari labor, aplikasi I
see berhasil diluncurkan. Mula-mula target Henry dan rekan-rekannya ingin
mencapai 100 pengguna dalam seminggu namun kenyataanya hanya sampai lima
puluhan. Hal ini membuat Profesor Martin agak sedikit kecewa. Ronald pun
berinisiatif meminta kepada Profesor Martin untuk memperkenalkan aplikasi
tersebut kepada teman beliau yang bekerja di Google untuk mempromosikan. Ronald
teringat bahwa salah satu dosen yang mengajar di kampusnya sedang bekerja di Google. Dosen itu adalah teman Profesor
Martin, yaitu Profesor Lupin. Kebetulan Ronald teringat saat Profesor Lupin
bertemu dengan Profesor Martin yang sedang berbincang-bincang saat Ronald lewat
di depan kantor tahun tahun lalu. Seketika itulah Ronald diperkenalkan kepada
Profesor Lupin denga profesor Martin.
Ronald menyampaikan ide kepada Profesor
Martin agar Profesor Lupin mengupload video di akun YouTubenya terkait pendapatnya
tentang aplikasi I see. Yuna juga
memberikan pendapatnya agar Profesor Lupin menyebutkan nama Yuna dan timnya
pada video tersebut. Yuna termasuk mahasiswi yang terkenal di universitas sejak
ia memenangkan ajang pemilihan berprestasi tingkat nasional mewakili
universitasnya. Sebelum pemilihan di tingkat nasional, Profesor Lupin termasuk
yang menjadi juri pemilihan mahasiswa berprestasi saat Yuna mengikuti seleksi
tersebut. Henry pun setuju dengan ide tersebut. Profesor Martin pun segera
menghubungi Profesor Lupin untuk meminta bantuannya.
Beberapa hari kemudian,
Profesor Lupin meng-upload video
tentang aplikasi I see. Banyak
pengguna YouTube yang menonton video tersebut dan mengomentarinya. Seketika itu
pula pengguna I see bertambah hingga
mencapai seribu pengguna. Henry yang sering memantau berita terbaru, tersenyum
melihat perkembanga pengguna I see. Banyak
orang berkomentar positif terkait aplikasi ini. Profesor Martin pun sangat
berterimakasih kepada Profesor Lupin atas kerja samanya mendukung mahasiswa
mahasiswinya. Yuna dan Ronald sangat
senang melihat perkembangan pengguna I
see yang semkain meningkat saja setiap minggunya.
Setelah peluncuran dan
strategi promosi sudah dilakukan oleh tim I
see, target selanjutnya yaitu pembuatan video tentang perkembangan aplikasi
tersebut dan diupload di akun khusus I see. Dengan video tersebut, tim juri
akan menilai bagaimana orang-orang di seluruh dunia mengenal aplikasi ini.
Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan dalam tahap ini. Sosial media
sangat diperlukan dalam memperkenalkan dan mempromosikannya sekaligus mendukung
tim Henry agar lolos pada tahap akhir kompetisi tersebut. Berkat dukungan
Profesor Lupin melalui video yang diupload,
berita tentang aplikasi tersebut sampai diberitakan di seluruh televisi
nasional bahkan disiarkan oleh BBC News. Seketika itu pula, akun YouTube I see dibanjiri komentar dan banyak
dibagikan di berbagai media sosial. Sungguh kerja sama tim yang hebat dan juga
didukung pembimbing yang sangat peduli akan keberhasilan mahasiswa didiknya.
Hari pengumuman 20
besar pun tiba. Pengumuman disampaikan oleh panitia melalui akun YouTube yang
disiarkan secara langsung. Yuna, Henry, Ronald dan Profesor Martin menonton
bersama di ruang labor teknik. Mereka hampir merasa tidak punya harapan karena
nam atim mereka tidak ada disebutkan. Namun, pada urutan terakhir nama I see disebut. Bergembiralah tim I see akhirnya bisa lolos pada tahap akhir.
Mimpi akan terbang ke Swiss kini tinggal menunggu beberapa hari saja walaupun
keadaan masih pandemi, protokol kesehatan dan syarat-syarat penerbangan ke luar
negeri harus selalu dipatuhi demi keselamatan bersama.
Selama seminggu, tim I see mempersiapkan semua syarat dokumen
dan kesehatan yang harus dimiliki agar bisa berangkat ke Swiss. Ronald
berinisiatif mengajukan proposal dana untuk mendukung mereka berangkat.
Proposal tersebut disetujui pihak kampus dan segera akan dicairkan sebelum
keberangkatan mereka. Pihak kampus juga membuat spanduk yang dipajang di
bangunan kampus sebagai dukungan Ronald dan timnya agar berhasil memenangkan
kompetisi inovasi di Swiss tersebut. Akun website kampus dan univeristas juga mengirimkan
berita terkait keberangkatan tim I see. Semua
pihak sangat mendukung perjuangan mereka.
Keberangkatan mereka
pun tiba dengan ditemani Garuda Indonesia selama berjam-jam. Selama perjalanan,
tim I see membayangkan seperti apa
negara Swiss yang sangat indah alam dan bangunannya. Apalagi Yuna terinspirasi
ingin ke Swiss karena menonton drama Korea yang berjudul Crash Landing on You. Akhirnya keinginan Yuna kini menjadi
kenyataan. Sampailah di bandara internasional Zurich, Swiss. Bandara yang
terkenal ramai itu tidak terlalu banyak orang saat Yuna, rekan-rekannya dan
Profesor Martin tiba. Pandemi yang sudah lama menetap membuat banyak orang
menjauh dari keramaian. Memilih cepat sampai di Kota Zurich, alasannya agar
mereka bisa isolasi selama seminggu dan beristirahat cukup sebelum presentasi.
Tiba di hari tahap
akhir penyeleksian, tim I see datang
lebih awal untuk membaca suasana. Di sebuah gedung mewah di Kota Zurich yang
terkenal akan biaya hidup yang sangat tinggi, presentasi 20 besar inovator dari
seluruh dunia akan dilaksanakan. Seluruh reporter baik televisi maupun media
lainnya akan menyiarkan langsung proses penyeleksian. Sungguh acara yang
berkelas dan megah. Setiap tim yang masuk 20 besar akan mempresentasikan karya
inovasinya sesuai nomor urutan. Tim I see
mendapat nomor urutan terakhir.
Nomor urutan terakhir
menjadi kesempatan atau kesalahan. Apalagi setelah melihat seluruh finalis yang
lolos, perasaan mereka tidak karuan. Profesor Martin menyemangati mereka dengan
memberikan coklat untuk mengembalikan mood
agar lebih baik lagi. Tibalah giliran tim I see mempresentasikan karya inovasinya. Dimulai dari Henry yang
menjelaskan tentang latar belakang pembuatan aplikasinya. Ronald menjelaskan
tentang fitur-fitur yang ada pada aplikasi tersebut dan Yuna mempresentasikan
tentang perkembangan promosi dan pandangan masyarakat dunia tentang aplikasi
tersebut. Presentasi mereka disambut dengan meriah dan dipenuhi tepuk tangan
penonton saat selesai presentasi.
Kurang lebih satu jam
para juri mendiskusikan siapa pemenang karya inovasi tahun ini. Henry, Ronald
dan Yuna tidak terlalu mengharapkan apa-apa karena persaingan kompetisi
sangatlah ketat. Tetapi, Profesor Martin
yaki bahwa tim mereka masuk lima besar. Lalu, tibalah para juri mengumumkan
pemenang lomba karya inovasi International
Exhibition for Young Inventors (IEYI) tahun 2020. Lima besar yang dipilih
juri berasal dari negara Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan dan
Indonesia, yaitu I see. Betapa
kagetnya Henry dna teman-temannya karena bisa mencapai lima besar. Pada kelima
kelompok tersebut, diadakan pengujian terhadap aplikasi tersebut dalam kekuatan
pengenalan benda pada daya baterai yang sangat rendah. Hal tersebut diuji untuk
menentukan aplikasi mana yang lebih bertahan pada kondisi paling lemah.
Serentak seluruh tim maju ke panggung dan melakukan uji ketahanan aplikasi.
Pada saat pengujian
pada daya baterai terendah, ketahanan aplikasi tim I see lebih baik pengenalan terhadap benda daripada aplikasi dari
tim kelompok lainnya sehingga tim I see dinyatakan
sebagai pemenang utama International
Exhibition for Young Inventors (IEYI) tahun 2020. Ini menjadi kado terindah
untuk Henry, ronald dan Yuna pada kondisi pandemi ini. Di balik hal-hal yang
tidak mungkin, mereka bisa membuat hal tersebut nyata dan bermanfaat bagi
banyak orang. Seketika Profesor Martin pun, langsung mengabadikan momen
terindah itu dan mengupload foto-foto
tim I see di akun instagramnya.
Betapa bangganya Profesor Martin atas keberhasilan mahasiswa mahasiswinya pada
ajang lomba inovasi tersebut.
“The
winner of International Exhibition for Young Inventors (IEYI) in Zurich, Swiss
2020 is I see group from Indonesia, Congratulations for your success. You deserve
to get a million dollars.”
Kini banyak orang di
dunia dapat merasakan manfaat dari aplikasi I
see. Aplikasi tersebut juga sudah diluncurkan dalam berbagai bahasa di
dunia sehingga memudahkan dalam penggunaannya. Now, I can see you clearly by using I see application. Thank you I see.
About me:
Eri Vianti lahir di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau yang merupakan seorang guru yang menyukai dunia kepenulisan. Ia bergelar Sarjana Pendidikan dan menamatkan pendidikan S1 nya di Universitas Riau jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tahun 2017. Selain mengajar, ia juga aktif mengikuti kegiatan volunteering di bidang pendidikan yang ada di Kota Pekanbaru, yaitu Komunitas English Generation (@englishgeneration) dan Fakta Bahasa Pekanbaru (@fabakuu). Ia juga aktif menulis di Komunitas Linimuda.id. Karya buku antologinya antara lain berjudul, Penappucino, Sudut Bercerita, Menepi dari Pandemi, Malam yang Enggan Terkenang dan Memorable Memories of Eid Adha. Silahkan hubungi Eri melalui akun Instagram (@erivianti), Facebook (Eri Vianti), blog : erivianti.blogspot.com dan Email : erivianti.ev@gmail.com. Baca juga tulisan-tulisannya di website : https://linimuda.id/author/erivianti . Salam Literasi
Komentar
Posting Komentar