Meine Lehrerin

 

Meine Lehrerin

Oleh Eri Vianti

@erivianti

 

Saat belajar di sekolah, kita akan lupa dengan materi pelajaran-pelajaran yang dipelajari. Yang kita ingat adalah sikap guru dan cara mengajar guru tersebut. Selain motivasi belajar datang dari orang tua kita, kita juga lebih banyak mendapatkannya dari para guru kita. Motivasi tersebut biasanya disampaikan melalui cerita-cerita yang disampaikan saat mengajar, mengobrol maupun diskusi. Bahkan, kita akan merasa bangga bila mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kegiatan sehari-hari para guru kita. Kita akan menirunya karena kita mengidolakan mereka.

Tidak terasa waktu terlewati begitu lama dalam beberapa tahun sejak kita dinyatakan lulus sekolah. Harapan kita bapak dan ibu guru selalu dalam keadaan sehat dan tetap semangat mengajar dalam kondisi apapun. Kita tidak pernah bisa membalas jasa-jasa dan ilmu-ilmu yang telah diberikan mereka kepada kita. Berdo’a untuk mereka serta menjalin silaturahmi menjadi cara untuk terus berbuat baik kepada mereka.

Aku menyukai bahasa asing dikarenakan terinspirasi dari guruku di SMA. Beliau berkesempatan tinggal di Jerman untuk mengikuti kegiatan pertukaran pelajar saat kuliah. Saat aku duduk kelas sebelas, di minggu awal untuk pertemuan pertama guruku bercerita pengalamannya bisa terpilih menjadi delegasi Indonesia untuk mengikuti kegiatan pertukaran ke Jerman.

Saat aku mendengarkan cerita Frau (panggilan ibu guru dalam Bahasa Jerman), aku sangat serius hingga tidak memalingkan pandanganku saat beliau bercerita. Aku berpikir untuk mengingat cerita tersebut seumur hidupku karena cerita tersebut begitu berharga bagiku. Sampai saat ini aku ingat selalu cerita Frau.

Kalau aku sedang tidak bersemangat atau gagal dalam melakukan sesuatu, cerita itu menjadi moodbooster. Bahkan, aku memiliki cita-cita bisa menginjakkan kaki di Negara Jerman juga seperti Frau lalu menuliskan nama Frau di foto yang aku ambil disana. Lalu, foto tersebut akan aku kirimkan kepada Frau sebagai tanda aku sudah mewujudkan cita-citaku.

Frau Rini merupakan panggilan untuk guruku tersebut. Beliau menceritakan kisah Pak Habibie yang kuliah di Jerman. Beliau menemukan rumus yang digunakan untuk mengatasi kerusakan pesawat yang sampai saat ini rumus tersebut masih dipakai orang Jerman. Kata Frau, selama ilmu kita dipakai di Negara Jerman, maka hak kita juga terus diberikan. Hal lain yang berbeda di Negara Jerman yaitu, tidak boleh memfotokopi buku. Harga foto kopi juga lebih mahal. Orang-orang disana lebih menganjurkan untuk membeli buku asli sebagai wujud penghargaan bagi penulis. Selain itu, orang Jerman dikenal sangat menyukai alam dan kebersihan. Keadaan alamnya juga sangat indah dan terjaga kesuburannya.

Saat Frau tiba di Jerman pada malam hari, ia diarahkan ke tempat yang menyediakan penginapan gratis untuk orang-orang yang tidak ada tempat tinggal sementara. Frau kaget saat dipersilahkan masuk ke penginapan itu untuk istirahat, kebetulan sudah malam dan untuk mencari penginapan berupa hotel pun bakalan sulit akhirnya Frau menginap disana. Paginya, Frau mau membayar tagihan sesuai pelayanan yang dipakai selama semalam menginap. Ternyata, petugas menolaknya. Ia mengatakan bahwa ini adalah program pemerintah Jerman untuk menjaga para wanita, anak-anak dan orang-orang yang tidak punya tempat tinggal. Frau bersyukur sekali dengan rezeki yang diterimanya.

Saat duduk di kelas sebelas, ada sebuah program untuk pelajar SMA yang diadakan pemerintah Jerman berupa pertukaran pelajar untuk mewakili Negara Indonesia. Dalam program tersebut, siswa siswi SMA yang terpilih dari seleksi se-Indonesia akan difasilitasi fully funded dalam program tersebut.

Aku belajar Bahasa Jerman pertama kali pada saat kelas sebelas. Di kelas sebelas, aku memiliki target bisa mengikuti seleksi program pertukaran pelajar ke Negara Jerman. Negara tersebut menjadi salah satu target negara yang ingin aku kunjungi. Namun, sepertinya belum rezeki untukku saat itu karena kata Frau seleksinya sangat ketat sedangkan aku mulai belajar Bahasa Jerman saat di kelas sebelas, bukan dimulai di kelas sepuluh. Berarti, waktu belum memihak kepadaku saat itu. Akhirnya, aku kecewa namun aku tetap berpikir positif bahwa banyak hikmah yang aku dapatkan dari penundaan itu.

Kini aku sadar bahwa tertunda itu bukan berarti gagal. Rezeki itu ibarat perpaduan persiapan dan kesempatan. Kesempatanku kali ini belum matang. Di waktu selanjutnya ketika sudah siap mudah-mudahan kesempatan itu datang lagi.

Sampai saat ini, aku masih menjaga cita-citaku agar bisa menginjakkan kaki di Negara Jerman. Mengingat cita-cita itu saja sudah membuatku bahagia dan terus ingin berusaha. Mengingat semua cerita Frau Rini tentang Negara Jerman membuatku selalu berdo’a agar kemudahan membawaku kesana.

Untuk lebih mengingat tentang Frau Rini, aku ingin mengabadikan kebaikan dan namanya di tulisan ini. Inilah salah satu cara membalas jasa beliau yang telah mengajarkanku banyak hal dan menyemangatiku untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Kata Frau Rini, jika rezeki pergi ke luar negerinya tidak ke Jerman, bisa jadi ke negara lainnya terlebih dahulu.

Aku termotivasi menjadi guru seperti Frau. Beliau berpesan bahwa menggapai cita-cita tinggi itu penuh lika liku dan dibutuhkan komitmen diri kita sendiri. Dari semua kegagalan yang dialami beliau, beliau tidak pernah menyerah dalam berdo’a dan berusaha. Frau juga mengatakan bahwa masih banyak jalan menuju ke Roma. Oleh karena itu, dikarenakan aku sudah berhasil menjadi guru juga, aku ingin melatih siswa siswiku agar memiliki cita-cita yang tinggi dan sikap komitmen terhadap mimpi-mimpi mereka.

Seorang guru diharapkan menjadi jembatan siswa siswi dalam memilih cita-cita, menjadi pegangan di tengah saat melewati cobaan menuju cita-cita dan juga menjadi tali yang bisa menarik semangat saat siswa siswi saat mulai melemah dalam berusaha.

“Menjadi seorang guru adalah sebuah anugerah terindah dalam hidup karena semua yang dilakukan menjadi tauladan dalam hidup bagi para peserta didik. Apalagi jika bisa melihat siswa siswinya lebih hebat dari masa-masa mereka, mereka pun akan lebih bahagia karena usaha mereka dalam mendidik menjadi berhasil. Maka, tetaplah selalu berkabar kepada guru-guru kita tentang pencapaian yang telah diraih. Hal itu akan menjadi kado terindah dalam hidup mereka.”

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I see You

Sebuah Janji dan Penghargaan

Karakter Generasi Muda sebagai Pilar Pendidikan Bangsa Indonesia