Sebuah Janji dan Penghargaan
Sebuah
Janji dan Penghargaan
Oleh
EV
@erivianti
“Ketika
kita mengatakan A dari permulaan sampai selesai nilainya seratus, tapi saat
kita mengatakan A dari permulaan namun menjadi B saat dipertengahan, maka
nilainya hanya 20.”
Bekerja sesuai
kemampuan dan jurusan sungguh beruntung bagi setiap orang. Apalagi memiliki
pekerjaan dari hobi yang dibayar. Sungguh pasti sangat menggembirakan bagi
setiap orang. Ketika diberi sebuah kepercayaan dari orang yang baru dikenal
memang menggiurkan kadang kita sampai lupa diri. Terlebih lagi jika kepercayaan
itu sangat menguntungkan, kita pasti langsung menyetujuinya. Tapi, bagaimana
jika tiba-tiba di tengah perjalanan situasi berubah menjadi mendung, hujan, licin
dan hampir tergelincir. Apakah masih ingin bertahan? Mungkin berteduh dulu
sambil termenung agar tidak salah pilih lagi untuk kedua kalinya.
Bagaimana perasaan kita
jika sudah berjanji mengatakan A tapi di tengah perjalanan berubah menjadi
huruf B dan sampai di akhir perjalanan jadi huruf C. Apakah kita masih mau
berjalan bersama menyelesaikan sebuah misi? Jika mungkin akan mengatakan tidak,
karena jerih payah dan perjuangan selama ini tidak ada manfaatnya. Sejak saat
itu, kita akan menjauh dan mungkin tidak akan kembali lagi. Sungguh betapa
berharganya janji yang diucapkan di awal pertemuan. Kita mengira janji itu baik
untuk kita, namun membuat diri kita tidak berharga sama sekali. Jadi,
perjuangan yang yang selama ini telah dilakukan bernilai nol. Lebih baik kita
melakukan kegiatan lain bersama orang-orang yang lebih menghargai kita.
Setiap orang ingin
dihargai, setidaknya diucapkan terimakasih atas sedikit apa yang sudah
diperjuangkan. Contohnya saja, tersenyum, ekspresi yang memberikan efek positif
kepada orang lain bahkan untuk orang yang belum dikenal. Tersenyum dapat
menular, maka tularkanlah energi positif kepada orang lain.
Kalau kita ingin
dihargai, maka kita belajar terlebih dahulu menghargai orang lain. Jika kita
ingin dipercaya, maka tepatilah janji yang sudah keluar dari lisan kita. Kalau tidak
bisa mengucap janji, maka buktikanlah langsung dengan tindakan karena itu lebih
baik dari sebuah kata-kata. Lidah tidak bertulang terkadang sungguh menggiurkan
dan membuat kita terlalu bahagia. Padahal kenyataannya perlu waktu sampai
kenyataan terjadi.
Jika kita menemukan
seseorang yang tulus menerima janji kita, maka jaga dan tepatilah janji itu. Jika
menemui sebuah perubahan, maka jelaskanlah alasannya dengan logika. Jangan hanya
karena hal sederhana, kita merusak semuanya baik janji, kepercayaan dan
penghargaan. Hargailah setitik usaha yang sudah orang lain lakukan, bicaralah
dan tanyakanlah bagaimana perjuangannya dan apa saja yang sudah dilakukan. Jangan
sampai kita menjilat ludah sendiri di kemudian hari padahal orang lain sudah
menyetujuinya. Sungguh hal itu tidak pantas dilakukan karena kita yang
memulainya terlebih dahulu. Maka, berhati-hatilah dalam memutuskan sesuatu. Jangan
sampai melukai hati dan perasaan orang lain.
“Sekali
janji dilanggar, runtuhlah semua kepercayaan. Sekali kita tidak dihargai, maka
jangan harap bisa bersikap seperti di awal perkenalan. Karena kita perlu
menjaga hati, pikiran dan perasaan sendiri sehingga orang lain tidak
semena-mena dengan kita. Karena kita itu sangat berharga, maka mulailah
menghargai diri sendiri sebelum berharap dihargai oleh orang lain.”
Kamis, 13 juli
2023
Komentar
Posting Komentar