Penampung Hal-Hal yang Tidak Berguna

Penampung Hal-Hal yang Tidak Berguna

oleh EV

@erivianti

 

Hidup adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada hambanya. Kita bisa menikmati keindahan dunia sebagai ciptaan yang maha kuasa. Dalam hidup, keadaan membuat kita di posisi atas dan bawah seperti roda yang berputar. Di posisi atas menempatkan kita dalam situasi berkecukupan yang membuat kita merasakan kebahagiaan. Namun, di saat posisi bawah membuat kita merasa tidak memiliki apa-apa dan ingin terus mencurahkan isi hati yang kadang-kadang wajib dikeluarkan. Kalau tidak dikeluarkan, hati dapat mengalami gangguan emosional. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat mengungkapkannya.

Namun, mengungkapkan curahan hati tidak sepatutnya ke semua orang dengan sikap yang sama karena keadaan dan kepribadian masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang keadaannya sedang memiliki masalah, ada yang sedang dalam keadaan tenang, ada yang tidak tenang. Masing-masing orang memiliki keadaannya sendiri. Jika kita membutuhkan mereka, apakah mereka tahu kalau kita hanya diam saja? Apakah mereka paham jika kita hanya diam saja dan ngomel-ngomel tidak jelas? Mereka niatnya menanyakan keadaan, “apa kabarnya?” niatnya baik, tapi dijawab oleh kita dengan ekspresi, (wajah bermuka masam atau cemberut). Jadi, mereka langsung berpikir, “apa salah saya dengannya? Kok dia bersikap seperti itu pada saya?”

Banyak pertanyaan yang muncul di hati kita saat orang lain ngomel-ngomel atau berbicara tidak jelas kepada kita. Malahan kita yang bakalan merasa punya salah kepada mereka dan jadi beban untuk diri sendiri. Namun, tidak perlu kita pusing-pusing karena masalah mereka tidak ada hubungannya dengan hidup kita. Tapi, keadaan tersebut membuat kita menjauh karena kita harus menjaga hati kita sendiri. Kita tidak punya salah kepada orang lain, malah dikata-katain dengan kalimat yang tidak baik. Kita niatnya membantu kesulitan mereka, mereka malah mengeluarkan kalimat kurang lembut. Kita ingin memahami mereka, mereka tidak terima dengan perlakuan atau perkataan kita.

Akhirnya, solusi terbaik adalah menjauh dari mereka sampai mereka sembuh dengan keadaan mereka. Kita berhak menjaga diri dan hati kita agar tidak terluka. Apalagi perempuan, yang inginnya mengeluarkan semua isi hati berbentuk cerita kepada orang lain. Sebagai seorang perempuan, kita harus tahu kepada siapa kita bercerita. Jangan kepada semua orang mau bercerita karena tidak semua orang dapat menjaga rahasia. Ceritalah kepada orang-orang tertentu yang baik dan dapat dipercaya.

Setelah kita tahu, kita hanya menjadi penampung hal-hal tidak berguna berupa cerita orang lain dengan semua masalah mereka, pergilah dengan ketenangan diri sendiri karena kita juga punya hal-hal yang harus kita buang juga. Kita saja sudah penuh dengan masalah sendiri, kita pula mau nampung masalah orang lain, jadinya tambah penuh. Apalagi respon mereka tidak baik dengan kita, seperti sikap sensistif, sikap menyalahkan, berkata keras dan kasar serta perlakuan untuk tidak mau membantu. Lebih baik kita lihat dulu keadaan orang lain saat mau minta tolong. Kita lihat dulu ekspresi wajah orang lain apakah sedang baik-baik saja atau tidak. Kalau sedang baik, lanjutlah berinteraksi dengannya. Kalau tidak baik, menjauhlah terlebih dahulu, karena kita tidak bisa sepenuhnya memahami orang lain. Maka, mulailah untuk memahami diri sendiri sejak dini dan berusahalah tetap bersikap baik jika kita membutuhkan orang lain. Apa yang kita terima akan berbalik sesuai apa yang kita lakukan sebelumnya.

“Jika ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, berlakulah baik terlebih dahulu kepada mereka karena apa yang kita tuai berasal dari apa yang kita tanam sebelumnya.” (EV)

Kamis, 13 Juli 2023


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I see You

Sebuah Janji dan Penghargaan

Karakter Generasi Muda sebagai Pilar Pendidikan Bangsa Indonesia